| BERBURU ke padang datar Dapat rusa belang kaki Berguru kepala ajar Ibarat bunga kembang tak jadi (dedikasi kepada Hari Guru dan guruku tercinta) Dialah pemberi paling setia Dialah ibu dialah bapa juga sahabat Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya USMAN AWANG Sajak ni sudah tua usianya. Namun, setiap kali dibaca, memang mampu menggetarkan perasaan. Membawa maksud yang sangat mendalam. Dalam kitab Fatihah al-ulum, Al-Ghazali menyebut tentang kepentingan dan kewajipan serta keperluan ikhlas dalam menunaikan tugas mengajar iaitu: “Maka barang siapa mengajar dan mengamalkan apa yang diajarkan, dialah yang berhak mendakwakan seorang yang besar dalam kerajaan langit, kerana sesungguhnya dia seperti matahari yang menerangi lainnya dan menerangi dirinya. Dan seperti kasturi yang memberi bau harum kepada orang yang melewatinya, sedang dia sendiri harum baunya. Dan barang siapa yang mengajar, maka dia telah mengurus pekerjaan yang besar dan bahaya yang besar; maka peliharalah kesopanan dan tugas-tugas itu.” Renung-renungkan dan selamat beramal ^_^ Sekian.. ~Allah knows best~ |
Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna. "Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? " Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.
"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," suara Rasulullah bernada rendah.
"Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," kata seorang sahabat yang lain pula. Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian baginda bersuara:
"Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."
Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ‘ikhwan’ baginda:
"Siapakah yang paling ajaib imannya?" tanya Rasulullah.
"Malaikat," jawab sahabat.
"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah. Para sahabat terdiam seketika.
"Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."
"Mungkin kami," celah seorang sahabat.
"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada ditengah-tengah kau," pintas Rasulullah menyangkal hujah sahabatnya itu.
"Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih mengetahui," jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.
"Kalau kamu ingin tahu siapa mereka? Mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," jelas Rasulullah.
"Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.
Begitulah nilaian Tuhan. Bukan jarak dan masa yang menjadi ukuran. Bukan bertemu wajah itu syarat untuk membuahkan cinta yang suci. Pengorbanan dan kesungguhan untuk mendambakan diri menjadi kekasih kepada kekasih-Nya itu, diukur pada hati dan buktikan dengan kesungguhan beramal dengan Sunnahnya.
Pada kita yang bersungguh-sungguh mahu menjadi kekasih kepada kekasih Allah itu, wajarlah bagi kita untuk mengikis cinta-cinta yang lain. Cinta yang dapat merenggangkan hubungan hati kita dengan baginda Rasulullah.
salam untuk mu yaa...rasulullah. ....
Kami susuli lembaran sirahmu
Pahit getir pengorbananmu
Membawa cahaya kebenaran
Engkau taburkan pengorbananmu
Untuk umatmu yang tercinta
Biar terpaksa tempuh derita
Cekalnya hatimu menempuh ranjaunya
Tak terjangkau tinggi pekertimu
Tidak tergambar indahnya akhlakmu
Tidak terbalas segala jasamu
Sesungguhnya engkau rasul mulia
Tabahnya hatimu menempuh dugaan
Mengajar erti kesabaran
Menjulang panji kemenangan
Terukir namamu di dalam Al-Quran
Rasulullah kami umatmu
Walau tak pernah melihat wajahmu
Kami cuba mengingatimu
Dan kami cuba mengamal sunnahmu
Kami sambung perjuanganmu
Walau kita tak pernah bersua
Tapi kami tak pernah kecewa
Allah dan rasul sebagai pembela
Bismillahhirrahmanirrahim.
I came across this one video in Al-Jazeera.
US troops urged to share faith in Afghanistan
US soldiers in Afghanistan have been filmed with local language Bibles and urged to be “witnesses for Jesus” despite anti-proselytising rules.
They are not just being in Afghanistan for military mission, instead they want to spread their religion which is Evangelical Christian (sambil menyelam minum air).
They printed out many copies of Bibles in Pashtu and Dari (Afghanistans’ local language) in order to spread their messages.
It is indirect (or direct?) violation of the US Constitution and military regulation. US Central Command General Order about the prohibited activities includes of: 1. Proselytising of any religion, faith or practice.
They know that they are breaking the rules, but what drive them to move forward and put some more effort into it? Hello, we are talking about Afghanistan ok where most of the human population there are conservative Muslims (with emphasized on the word conservative). They won’t have any chance of proselytising anybody! (I guess). Despite all that, they seem to not give up. I believe the strength lies in their belief.
But how about us as a Muslim? Do we have that kind of courage? A strong belief in Allah that enable us to do almost everything?(mati hidup semula is an exceptional =D)
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar.Dan merekalah orang yang beruntung. (Ali-Imran:104)
Doing dakwah and amar makruf nahi mungkar are not an easy job. But each of us has our own unique ability, target ‘audience’ and chances to do that. Get to know yourself better, who you can reach to (it is not necessarily a burglar or serial killer, it can even be your own family!) and identify the chances. Renung-renungkan dan selamat beramal! =D
~Allah knows best~
“Those who spend their wealth in the path of Allah by night and by day, secretly and openly, for them is their reward with their sustainer. There is neither fear on them nor shall they grieve” (2:262)
Banyakkan menyelitkan pengalaman diri kerana itulah elemen yang menjadikan blog kita tidak sama dengan mana-mana blog lain. Angkat pengalaman itu sebagai mutiara yang berharga dalam hidup, dan latihlah diri untuk berupaya menafsirkan pengalaman hidup hingga terbit ibrah daripadanya.-Ustaz Hasrizal-
Setiap pemilik blog sememangnya bebas untuk memuatkan apa jua coretan dan gambar yang mereka sukai, namun mereka juga WAJIB bertanggungjawab untuk meemastikan entrynya tidak menggalakan pembaziran waktu dan masa diri sendiri dan pembaca tanpa mesej jelas. Selain itu, WAJIB pula dijaga dari sebarang komen buruk dan negatif terhadap Islam.-Ustaz Zaharuddin-